Pages

Rabu, 08 Mei 2013

NATURALISME DAN PROBLEMA KEJAHATAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
         Di dalam kehidupan yang banyak terjadinya tentang  problema yang bertengan dengan agama. Yang menyebab seseorang ragu dengan apa mereka yakini, dan merobah pola fikir mereka dalam beragama, karena adanya paham yang salah tentang keagamaan. Salah satunya untuk bisa menangkis prolema yang bertentangan dengan agama itu, kita harus mengetahui nya dengan mempelajari dan menalisa dari argument-argumen yang mereka kemungkakan tersebut.

B.    Tujuan
Tujuan dari makalah ini, untuk menambah ilmu pengetahuan dalam  Agama, terutama dalam Filsafat Agama. Dan Makalah ini sebagai persyaratan dalam mengikuti, dan memenuhi  perkuliahan Filsafat Agama


                                                              BAB II
PEMBAHASAN
     
     A.Naturalisme
Salah satu problem yang dihadapi oleh manusia modern, terutama para ilmuan adalah; apakah agama bisa sejalan dengan teori-teori ilmiah ? sebab, Ilmu menekankan pembahasan pada alam fisik, sedangkan agama pada hal yang diluar fisik. Ilmu menyelidiki yang Natur, sedangkan agama Supernatur.  Ilmu tidak dapat tersusun kecuali atas dasar hukum alam yang tetap.
Menurut Naturalisme, alam ini berdiri sendiri, serba sempurna, beredar dan beroperasi menurut sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya sendiri, menurut tabiat atau Naturnya, menurut sebab dan musabab. Alam ini tidak berasal dan tidak bergantung pada kekuatan gaib atau supernatural. Paham naturalisme ini timbul setelah ilmu pengetahuan tentang alam bertambah maju dan para ahli ilmu alam melihat bahwa alam ini berevolusi dan bergerak menurut peraturan tetap, dengan kata lain menurut mekanisme tertentu. Dengan dijumpainya, menurut naturalisme tak ada lagi misteri diatas dunia ini.
Jadi, masa depan ditentukan dari sekarang oleh hukum-hukum alam yang  tak berubah-ubah itu. Di atas, hukum-hukum alam ini tidak ada lagi sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang supreme. Seseorang naturalis diabab ke 19 mengatakan bahwa ia telah menyelidiki langit dengan teleskopnya, tetapi ia tak menemukan Tuhan. Lalu faham naturalism ini seterunya meningkat pada ateisme. Ateisme ialah kepercayaan bahwa Tuhan tidak ada.
Dari sini, Aristoteles memberi ilustrasi dari pengertian keempat sebab sebagai berikut: Sepasang sepatu terdiri dari empat sebab ; sebab materi, yaitu kulit sebagai bahan dasar; sebab formal, yaitu bentuk sepatu; sebab efektif, yaitu tukang sepatu; sebab tujuan, yaitu tujuan untuk alas kaki. Jadi keempat sebab ituharus ada dalam sepatu. Kalau keempat sebab itu tidak ada, maka sepatu tidak bisa dibuat.[1] Dari demikian Aristoteles meberikan kesimpulan; bahwa pembuatan sepatu ada sebab musababnya dan begitu juga bagi alam, secara keseluruan nya mempunyai sebab musababnya tadi.
Lalu dari sana, baik ilmu maupun agama menganjurkan memperhatikan alam. Hanya saja bagi penganut naturalisme, alam dijadikan sebagai objek kajian untuk menetapkan teori-teori ilmu, sedangkan para teolog, alam dijadikan sebagai kajian untuk mempertegas wujud dan kebesaran Tuhan. Strutur ilmiah menurut keokjektifan, teruji, terbukti, dan pasti, ada pun strutur Agama menurut keyakinan( bersifat subyektif)dan tidak perlu dibuktikan, tetapi dapat diperkuat oleh argument rasional. Ukuran ilmu dan agama juga berbeda, ilmu ukurannya salah dan benar sedangkan agama ukurannya iman dan kafir.

B. Problema Kejahatan
             Dengan adanya kejahatan di jagad raya merupakan problema yang tidak henti-henti diperdebatkan. Dari sini timbulah suatu pertentangan dalam diri tuhan, yaitu; Tuhan sebagai sumber kebaikan dan sekaligus kejahatan. Kenyataan tersebut tidak benar secara logika. Dan argumen semacam ini pula yang di gunakan oleh kaum ateisme untuk menolak teisme. Salah satu argument yang mereka susun sbb;
1. Jika Tuhan maha baik, tentu dia akan membasmi kejahatan.
2. Jika Tuhan maha kuasa, tentu dia mampu menghacurkan kejahatan.
3. Tetapi kejahatan belum terhapus.
4. Karena itu Tuhan tidak ada.[2]
                                 Kalau teime menghadapi probem kejahatan, maka ateisme menghadpi persoalan kebaikan. Timbul pertanyaan dari mana datangnya kebaikan yang diluar jangkauan kodrat manusia, seperti; kekuatan(kosmos) dan udara yang paling inti(vital) bagi kehidupan manusia. Kalau dikatakan bahwa udara dari udara, tentu mustahil jika zat yang sama menciptakan sendiri apalagi udara benda mati, jadi ateisme mendapat kesulitan yang tidak gampang diselesaikan.
                  Kejahatan pada prinsipnya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu;
1.      Kejahatan moral.
2.      Kejahatan alam.

Kejahatan moral moral berasal dari diri manusia sendiri, sedangkan kejahatan alam
Di luar kemampuan manusia. Namun, kedua kejahatan itu kadang kala sangat terkait. Contohnya, seseorang mati terbunuh, bisa karena dibunuh oleh seseorang dan bisa ditenggelamkan banjir. Yang pertama karena kejahatan moral, sedangkan yang kedua karena kejahatan alam.
                
                  Para ahli agama dan filosofis berusaha untuk menyelesaikan problematika kejahatan, baik moral maupun alam.

                   Pertama, kekuasaan mutlak tuhan harus bersyarat. Tuhan tidak berkuasa menciptakan sesuatu yang bertentangan dalam diriNya, seperti Tuhan tidak mampu membuat tali satu ujung. Disini C.S. Lois menanggapi, dengan mengatakan bahwa Tuhan maha kuasa berarti mempunyai kemampuan untuk mengerjakan segala sesuatu memang tabiatnya mungkin dan yang tidak membuat sesuatu memang tabiatnya yang mustahil. Menurutnya perbuatan demikian tidak mengurangi kekuasaan Tuhan.[3]
                    Kedua, kejahatan adalah bagian yang tidak bisa dipisakan dari kebaikan yang lebih tinggi. Adanya kejahatan untuk menuju keasempurnaan. Seseorang Ibu melahirkan dengan merasakan sakit, setelah itu dia akan girang telah melihat anaknya lahir dengan selamat. Seseorang tidak akan pernah merakan nikmat sehat kalau dia tidak pernah sakit.[4]
                     Ketiga, setiap kejahatan adalah kutukan bagi manusia yang berdosa, hal ini diperkuat oleh agamawan  bahwa dalam kitab suci menceritakan tentang, Kaum  Ad, Samud, dan Luth tertimpa becana alam ketika melanggar Sunnatullah. Kalau diteliti secara cermat, kejahatan yang diungkapkan Al-Quran ada kolerasinya dengan perbuatan mereka .
                      Keempat, keyakinan tentang segala seuatu yang terjadi tidak lepas dari hikma Tuhan. Karena keterbatasan manusia, tidak mampu mengetahui semua hikma yang ad. Hanya sedikit yang mampu diketahui, sedangkan yang tidak diketahui sangat banyak, kendati yang sedikit itu sudah diketahui, belum tentu cocok dengan hikmah yang ditetapkan Tuhan.
                       Dari jawaban diatas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun perlu dihargai adanya suatu usaha untuk menjawab dan menyelesaikan problem kejahatan. Minimal mampu menangkis serangan kaum ateis dengan argument yang kuat. Kepuasan atas jawaban diatas, tergangtung kepribadian dan ilmu pengetahuan masing-masing. 





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.      Naturalism, menurut mereka alam ini berdiri sendiri, yaitu; alam ini tidak berasal dan tidak  bergantung pada kekuatan gaib atau supernatural.
2.      Dari paham Naturalisme ini, timbul kepercayaan  ateisme.
3.      Ateisme ialah, bahwa mereka meyakini tuhan tidak ada.
4.      Dari problema kejahatan, timbul suatu  pertentangan dengan diri Tuhan.
5.      Timbulnya argument-argumen ateis untuk menolak teisme.
6.      Kalau teisme menghadapi problem kejahatan maka kaum ateisme menghadapi problema kebaikan.


B.  Saran
         Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, banyak hal-hal yang masih kurang dalam makalah ini. Maka dari pada itu pemakalah mengaharapkan kritikan dan saran dari para pembaca dan terutama sekali kepada dosen pembimbing, guna untuk perubahan dan perbaikan bagi pemakalah dikemudian harinya.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Dr. K. Bertens, Sejarah filsafat Yunani, ( Yogyakarta: Kanisius, 1981).
2.      Noman L. Geisler dan William Watkins, perspective Understanding anda Evaluating Today’s World Views,( Calivornia: Here’s Life  Publishers, inc,1984).
3.      Geddes Mac Gregor,Iintroduction to Relegious Philophy,( New York: Macmillan, & Co Ltd., 1960).
HM. Rasjidi, Filsafat agama, (Jakarta : Bulan Bi


[1] Dr. K. Bertens, Sejarah filsafat Yunani, ( Yogyakarta: Kanisius, 1981), hlm. 141.
[2] Noman L. Geisler dan William Watkins, perspective Understanding anda Evaluating Today’s World Views,( Calivornia: Here’s Life  Publishers, inc,1984), hlm. 64.
[3] H.M. Rasjidi, op.cit, hlm. 194.
[4] Geddes Mac Gregor,Iintroduction to Relegious Philophy,( New York: Macmillan, & Co Ltd., 1960), hlm 276.
Poskan Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ping your blog, website, or RSS feed for Free Academics blogs

Followers